http://pokerweb.online http://indonesiaweb.poker http://caramaincapsasusun.org http://agentaruhan.poker http://pakarjudionline.com http://pendaftaran.poker http://agenonline.poker http://caramaincapsasusun.co http://domino-99online.com http://poker-terpercaya.net http://daftarpokerdewa.net http://idnplay-poker.net http://daftarpokerdewa.net http://idnplay-poker.net http://maupokerindo.com http://tanpabot.poker http://mainkartupoker.com http://idnplayceme.com http://kingpoker.org
Sejarah Sabung Ayam Di Indonesia

Sejarah Sabung Ayam Di Indonesia – Adu Ayam Pandai atau awam disebut sabung ayam merupakan permainan yang sudah dilakukan masyarakat di kepulauan Nusantara semenjak dahulu kala. Permainan ini merupakan perkelahian ayam pandai yang memiliki taji dan kadang kala taji ayam pandai ditambahkan serta terbuat dari logam yang runcing. Permainan Sabung Ayam di Nusantara rupanya tidak cuma sebuah permainan hiburan semata bagi masyarakat, tapi merupakan sebuah cerita kehidupan baik sosial, tradisi ataupun politik.

Permainan Sabung Ayam di pulau Jawa berasal dari folklore (cerita rakyat) Cindelaras yang memiliki ayam sakti dan diundang oleh raja Jenggala, Raden Putra untuk mengadu ayam. Ayam Cindelaras diadu dengan ayam Raden Putra dengan satu syarat, bila ayam Cindelaras keok maka dia bersedia kepalanya dipancung, tapi bila ayamnya menang maka separuh kekayaan Raden Putra menjadi milik Cindelaras. Dua ekor ayam itu bertarung dengan gagah berani. Namun dalam waktu singkat, ayam Cindelaras sukses menaklukkan ayam sang Raja. Para penonton bersorak sorai mengelu-elukan Cindelaras dan ayamnya. Alhasil raja mengakui kehebatan ayam Cindelaras dan mengetahui bahwa Cindelaras tidak lain merupakan putranya sendiri yang lahir dari permaisurinya yang terbuang dampak dengki dengki sang selir.

Sejarah Sabung Ayam Di Indonesia

Sabung ayam juga menjadi sebuah momen politik pada masa lampau. Kisah kematian Prabu Anusapati dari Singosari yang terbunuh dikala menyaksikan sabung ayam. Kematian Prabu Anusapati terjadi pada hari Budha Manis atau Rabu Legi dikala di kerajaan Singosari sedang berlangsung keramaian di Istana Kerajaan salah satunya merupakan pertunjukan sabung ayam. Peraturan yang berlaku merupakan siapapun yang akan masuk kedalam ajang sabung ayam dilarang membawa senjata atau keris. Sebelum Anusapati berangkat ke ajang sabung ayam, Ken Dedes ibu Anusapati memberi arahan si kecilnya agar jangan melepas keris pusaka yang dipakainya bila ingin menyaksikan sabung ayam yang diselenggarakan di Istana, tapi sesaat sabung ayam belum dilakukan Anusapati terpaksa melepaskan kerisnya atas desakan Pranajaya dan Tohjaya. Pada dikala itu diarena terjadi kekacauan dan walhasil momen yang dikuatirkan Ken Dedes terjadi dimana kekacauan hal yang demikian merengut nyawa Anusapati yang tergolek mati diarena sabung ayam dibunuh adiknya Tohjaya tertusuk keris pusakanya sendiri. Kemudian jenasah Anusapati dimakamkan di Candi Penataran dan kejadian itu tetap dikenang orang, Anusapati merupakan kakak dari Tohjaya dengan ibu Ken Dedes dan bapak Tunggul Ametung walaupun Tohjaya merupakan buah hati dari Ken Arok dengan Ken Umang itu memang diriwayatkan memiliki kesukaan menyabung ayam. Memang dalam cerita rakyat secara khusus Ciung Wanara mengisahkan bahwa kemujuran dan perubahan nasib seseorang ditentukan oleh keok menangnya ayam di ajang sabung ayam, seperti itu juga Anusapati bukan keok dalam adu ayam tapi dalam permainan ini dia terbunuh.

Padahal di Bali permainan sabung ayam disebut Tajen. Tajen berasal-usul dari tabuh rah, salah satu yadnya (upacara) dalam masyarakat Hindu di Bali. Tujuannya mulia, merupakan mengharmoniskan kekerabatan manusia dengan bhuana agung. Yadnya ini runtutan dari upacara yang sarananya menggunakan hewan kurban, seperti ayam, babi, itik, kerbau, dan beraneka macam hewan peliharaan lain. Persembahan hal yang demikian dilakukan dengan sistem nyambleh (leher kurban dipotong sesudah dimanterai). Sebelumnya malahan dilakukan ngider dan perang sata dengan perlengkapan kemiri, telur, dan kelapa. Perang sata merupakan pertarungan ayam dalam rangkaian kurban suci yang dilakukan tiga partai (telung perahatan), yang melambangkan penciptaan, pemeliharaan, dan pembinasaan dunia. Perang sata merupakan simbol pengorbanan hidup.

Kebiasaan ini sudah lama ada, malahan semenjak zaman Majapahit. Saat itu menggunakan istilah menetak gulu ayam. Alhasil tabuh rah merembet ke Bali yang bermula dari pelarian orang-orang Majapahit, sekitar tahun 1200.

Serupa dengan beraneka kesibukan lain yang dilakukan masyarakat Bali dalam menjalani ritual, secara khusus yang berhubungan dengan penguasa jagad, tabuh rah memiliki pertanda yang bersandar pada dasar sastra. Tabuh rah yang sering kali diselenggarakan dalam rangkaian upacara Butha Yad-nya malahan banyak disebut dalam beraneka lontar. Misalnya, dalam lontar Siwa Tattwapurana yang antara lain menceritakan, dalam tilem kesanga (dikala bulan sama sekali tidak nampak pada bulan kesembilan penanggalan Bali). Bathara Siwa mengadakan yoga, dikala itu keharusan manusia di bumi memberi persembahan, kemudian diadakan pertarungan ayam dan dilakukan Nyepi sehari. Padahal dikasih kurban merupakan Sang Dasa Berdasarkan Bumi, karena bila tidak, celakalah manusia di bumi ini.

Baca juga : Daftar Sabung Ayam S128 secara gratis.

Sejarah Sabung Ayam Di Indonesia

Padahal dalam lontar Yadnya Prakerti dibuktikan, pada waktu hari raya diadakan pertarungan suci misalnya pada bulan kesanga patutlah mengadakan pertarungan ayam tiga sehet dengan perlengkapan upakara. Bukti tabuh rah merupakan rangkaian dalam upacara Bhuta Yadnya di Bali semenjak zaman purba juga didasarkan dari Prasasti Batur Abang I tahun 933 Saka dan Prasati Batuan tahun 944 Saka.

Dalam kebudayaan Bugis sendiri sabung ayam merupakan kebudayaan sudah menempel lama. Dahulu M Farid W Makkulau, Manu’(Bugis) atau Jangang (Makassar) yang berarti ayam, merupakan kata yang amat lekat dalam kehidupan masyarakat Bugis Makassar. Gilbert Hamonic menceritakan bahwa tradisi bugis kental dengan mitologi ayam. Alhasil Raja Gowa XVI, I Mallombasi Daeng Mattawang Sultan Hasanuddin, digelari “Haaantjes van het Oosten” yang berarti “Ayam Jantan dari Timur.

Dalam kitab La Galigo diceritakan bahwa tokoh utama dalam epik mitik itu, Sawerigading, kesukaannya menyabung ayam. Pengaruh, orang tidak disebut pemberani (to-barani) bila tidak memiliki tradisi minum bir (angnginung ballo), judi (abbotoro’), dan massaung manu’ (adu ayam), dan untuk menyuarakan keberanian orang itu, biasanya dibandingkan atau diasosiasikan dengan ayam jantan paling berani di kampungnya (di negerinya), seperti “Buleng – bulengna Mangasa, Korona Mannongkoki, Barumbunna Pa’la’lakkang, Buluarana Teko, Campagana Ilagaruda (Galesong), Bakka Lolona Sawitto, dan lain sebagainya. Dan hal amat penting yang belum banyak diungkap dalam buku sejarah merupakan fakta bahwa permulaan perselisihan dan perang antara dua negara adidaya, penguasa semenanjung barat dan timur jazirah Sulawesi Selatan, Kerajaan Gowa dan Bone diawali dengan “Massaung Manu”. (Manu Bakkana Bone Vs Jangang Ejana Gowa).

Pada tahun 1562, Raja Gowa X, I Mariogau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tunipalangga Ulaweng (1548 – 1565) mengadakan kunjungan legal ke Kerajaan Bone dan disambut sebagai tamu negara. Kedatangan tamu negara hal yang demikian dimeriahkan dengan acara ’massaung manu’. Oleh Raja Gowa, Daeng Bonto mengajak Raja Bone La Tenrirawe Bongkange’ bertaruh dalam sabung ayam hal yang demikian. Taruhan Raja Gowa 100 katie emas, sedang Raja Bone sendiri mempertaruhkan segenap orang Panyula (satu kampong). Sabung ayam antara dua raja penguasa semenanjung timur dan barat ini bukanlah sabung ayam awam, tapi pertandingan kesaktian dan kharisma. Gelanggang, Ayam sabungan Gowa yang berwarna merah (Jangang Ejana Gowa) mati terbunuh oleh ayam sabungan Bone (Manu Bakkana Bone).

Kematian ayam sabungan Raja Gowa merupakan fenomena kekalahan kesaktian dan kharisma Raja Gowa oleh Raja Bone, sehingga Raja Gowa Daeng Bonto merasa terpukul dan malu. Tragedi ini dipandang sebagai momen siri’ oleh Kerajaan Gowa. Di lain pihak, kemenangan Manu Bakkana Bone menempatkan Kerajaan Bone dalam posisi psikis yang kuat kepada kerajaan – kerajaan kecil yang berlokasi di sekitarnya. Ternyata positifnya, tidak lama sesudah momen sabung ayam hal yang demikian serta merta kerajaan – kerajaan kecil di sekitar Kerajaan Bone menyuarakan diri bergabung dengan atau tanpa tekanan militer, seperti Ale, Awo, Teko, serta negeri Tellu Limpoe.

sabung ayam pada dahulu kala di Nusantara bukan cuma sebuah permainan rakyat semata tapi sudah menjadi tradisi politik yang memberi pengaruh perkembangan sebuah dinasti kerajaan. Informasi permainan sabung ayam online Indonesia dapat kunjungi situs resmi http://games128.net/

News Reporter